Web Dosen

Berpacu menjadi yang terbaik

Pengukuran dan Indikator-Indikator Pembangunan

diposting oleh philipus-k-s-fisip pada 13 December 2012
di Umum - 0 komentar

INDIKATOR-INDIKATOR PEMBANGUNAN:

INDIKATOR EKONOMI – GDP & GNP

Kriteria Pendapatan / Pertumbuhan Ekonomi

Para ekonom biasanya mengukur tingkat pembangunan sebuah negara dengan menggunakan 2 metodologi yang dikenal luas. Pertama, pendapatan per person atau pertumbuhan ekonomi, bahwa tingkat pendapatan merupakan ukuran yang tepat untuk membandingkan tingkat pembangunan setiap negara. Angka pertumbuhan pendapatan per person digunakan untuk menilai kemajuan sebuah negara.

Sedangkan pandangan lain mengatakan bahwa pembangunan adalah suatu konsep yang kompleks, multi faset sehingga tidak sekadar diukur dari tingkat pendapatan dan karenanya diukur dari berbagai standar berbeda. Di sini, pembangunan dinilai memiliki tujuan (goal) yang beragam seperti:

a)     kesetaraan peluang;

b)     meningkatkan pendapatan dan standar hidup

c)      pemerataan distribusi pendapatan dan kesejahteraan

d)     politik demokrasi dan partisipasi luas

e)     peran yang lebih luas bagi kaum perempuan, minoritas dan semua kelas sosial dalam ruang ekonomi, politik, dan sosial

f)       meningkatnya peluang untuk pendidikan dan perbaikan individu tanpa memandang kelas, ras, etnisitas, agama, atau gender

g)     perluasan ketersediaan kesehtan.

h)    lingkungan yang bersih dan sehat

i)       pengelolaan sektor publik secara lebih efisien, kompeten, transparan, dan adil

j)       derajat kompetisi yang adil dalam sektor privat, dan sebagainya.

Mengukur Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dapat diukur baik melalui pertumbuhan output total (total output) atau pendapatan total (total outcome). GNP dan GDP merupakan dua (2) ukuran yang paling sering digunakan dalam perbandingan pendapatan (income) dan output, dan kemudian mengukur pertumbuhan ekonomi.

GNP adalah nilai total pendapatan (= nilai output final) semua penduduk sebuah negara, tanpa memandang sumber pendapatan tersebut – apakah pendapatan berasal dari sumber di dalam atau di luar sebuah negara. Sedangkan GDP adalah nilai total (= nilai dari output final) semua pendapatan yang dihasilkan dalam batas-batas wilayah sebuah negara, tanpa memperhatikan apakah penerima pendapatan tersebut berada di dalam atau luar negara.

Perbedaan antara GNP dan GDP sebuah negara dapat dilacak manakala korporat multinasional menanamkan investasinya lintas batas negara. Misalnya, korporasi milik Amerika yang berinvestasi di negara lain setara dengan $468 milyar di tahun 1991. Hasil investasi tersebut, dan dengan mempertimbangkan pinjaman bank Amerika bagi negara lain serta aliran finansial, telah terjadi aliran keuntungan, dividen, dan pendapatan sebesar $155.7 milyar yang kembali ke Amerika dan diterima sebagai pendapatan oleh residen di Amerika. Pendapatan ini masuk dari luar Amerika dan menjadi bagian dari GNP Amerika, bukan GDP Amerika karena bukan merupakan pendapatan yang dihasilkan di dalam Amerika. Dan nilai dari aliran keuntungan, dividen, menjadi bagian dari GDP negara asal aliran dana tersebut. Aliran pendapatan tersebut memberikan sumbangan bagi GNP Amerika, sehingga pendapatan yang tersedia bagi residen Amerika akan lebih besar daripada pendapatan yang dihasilkan dari dalam wilayah Amerika seperti yang diukur dengan GDP Amerika.

Pada tahun yang sama, banyak perusahaan dari negara lain melakukan proses produksi (berinvestasi) di dalam Amerika. Total investasi yang dilakukan oleh beberapa negara di wilayah Amerika sebesar $419 milyar. Investasi oleh perusahaan asing di wilayah Amerika menghasilkan pendapatan dan output dalam wilayah Amerika dan menjadi bagian dari GDP Amerika. Akan tetapi tidak semua pendapatan yang ada menjadi bagian dari GNP Amerika. Keuntungan (profit), dan dividen sebesar $139.7 milyar di 1991 milik investor asing seperti Inggris, Jerman, Jepang yang berinvestasi di Amerika. Pendapatan dihasilkan di Amerika (bagian dari GDP Amerika), tetapi menjadi milik dan mengalir kepada penerima di luar Amerika, karenanya mengurangi GNP Amerika di bawah level GDP Amerika. Akibat yang sama juga terjadi ketika pendapatan yang dihasilkan di Amerika oleh investor asing yang kemudian menerima aliran pendapatan dari Amerika.

Model kedua, remitan para pekerja menyebabkan perbedaan GNP dan GDP. Misalnya saja, ketika pekerja bermigrasi dari negara A dan bekerja di negara B, seringkali para pekerja mengirim sejumlah besar pendapatannya kepada keluarga mereka di negara A. Remitan ini menyebabkan GNP<GDP di negara B dan GNP>GDP di negara A.

Dengan demikian, secara umum, besar kecilnya GNP dan GDP tergantung pada jumlah aliran dana (pendapatan) yang masuk ke dalam suatu negara minus jumlah pendapatan yang keluar dari sebuah negara ke wilayah lain. Sekali lagi, ini berkaitan dengan aliran dana (pendapatan); tingkat ekspor dan impor tidak menghasilkan perbedaan antara GNP dan GDP. Ketika aliran pendapatan yang diterima lebih besar dari pendapatan yang keluar dari suatu negara maka GNP>GDP. Sebaliknya, ketika pendapatan yang mengalir masuk lebih kecil dari aliran pendapatan keluar, maka GDP>GNP untuk negara tersebut.

Ketika gap antara GDP/GNP positif (GDP-GNP>0), sebuah negara memiliki aliran pendapatan keluar wilayah lain melebihi arus masuk pendapatan, sehingga GDP>GNP. Sebaliknya, ketika gap GDP/GNP negatif (GDP-GNP<0), sebuah negara memiliki aliran masuk pendapatan melebihi aliran keluar pendapatan, sehingga GNP>GDP.

Penyesuaian terhadap Ukuran GDP dan GNP

Nilai dari total GDP dan total GNP menggambarkan aliran nilai uang dari total pendapatan dan output setiap negara. Ada sejumlah penyesuaian terhadap kedua ukuran ini apabila pendapatan digunakan sebagai ukuran untuk melakukan perangkingan setiap negara.

Pertama, menyesuaikan dengan besaran populasi. Hal ini mengingat 2 alasan mendasar. Pertana, menggunakan total GNP (atau GDP) untuk membandingkan tingkat pembangunan setiap negara kurang pas. Misalnya, Cina memiliki total GNP tertinggi, namun Cina juga memiliki populasi penduduk terbesar. Untuk itu, menghitung pendapatan per kaipita perlu mempertimbangkan perbedaan besaran (ukuran) suatu negara. Alasan lain menggunakan pendapatan per kapita adalah untuk menentukan jika sepanjang waktu, perubahan tingkat pendapatan agregat setiap negara (a) cukup sejalan dengan pertumbuhan penduduk, sehingga GNP per kapita (atau GDP) tetap konstan sepanjang waktu; (b), lebih dari cukup untuk sejalan dengan pertumbuhan penduduk, sehingga GNP per kapita meningkat setiap waktu; atau (c) kurang cukup untuk sejalan dengan pertumbuhan penduduk, sehingga GNP per kapita menurun setiap waktu.

Kedua, perlu memperhitungkan distribusi pendapatan. Menggunakan total pendapatan dan output dapat memberikan informasi tentang pendapatan per kapita. Akan tetapi, estimasi ini bukan menjadi ukuran terbaik untuk melihat pendapatan aktual yang diterima oleh setiap individu, karena hanya merupakan rata-rata dari hasil membagi total GNP atau GDP dengan total populasi. Ukuran pendapatan per kapita tidak memberikan informasi mengenai dispersi (sebaran) pendapatan aktual. Karenanya perlu mengetahui distribusi pendapatan dalam sebuah negara jika ingin melihat pendapatan per kapita.

Ukuran yang mana yang harus digunakan: GNP per kapita atau GDP per kapita? Apa Bedanya?

Ukuran GNP memberikan gambaran mengenai tingkat konsumsi dan investasi sebuah negara, termasuk pengeluaran pemerintah. GNP karenanya menggambarkan suatu ukuran akan jumlah total barang dan jasa yang tersedia bagi residen sebuah negara. Dalam istilah ekonomi, tingkat pendapatan dan output yang diukur dari GNP merupakan suatu ukuran yang menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk suatu negara. Apabila akan menggunakan kriteria pendapatan dan pertumbuhan ekonomi, maka hal tersebut makes sense untuk menggunakan GNP per kapita sebagai standar, sebab GNP per kapita mengukur apa yang tersedia untuk standar hidup penduduk, baik untuk konsumsi saat ini dan di masa datang sebagai invesasi.

GDP, di lain pihak, mengukur semua output atau pendapatan yang dihasilkan di dalam batas-batas sebuah negara. GDP lebih merupakan suatu nilai indeks akan semua produksi yang terjadi di dalam sebuah negara. Angka GDP per kapita riil bukan menjadi pilihan apabila seseorang ingin mengukur tujuan-tujuan pembangunan dalam cakupan luas. GDP per kapita riil memberi informasi tentang produksi total dalam sebuah negara, tanpa memandang siapa penerima pendapatan yang dihasilkan dari produksi tertentu. Ukuran GDP per kapita bukan menjadi ukuran yang tepat untuk mengukur target-target pembangunan sebuah negara dalam konteks luas.

PARITAS DAYA BELI (PURCHASING POWER PARITY)

Isu lebih lanjut adalah mengenai penggunaan tingkat penerimaan negara sebagai suatu dasar perbandingan dan ukuran proxi akan tingkat pembangunannya. Sebetulnya apa makna dari GNP per kapita Kamboja tahun 1999 sebesar $260 dengan GNP per kapita Jerman tahun 1999 sebesar $25.350? Juga GNP per kapita 1999 sebesar $3.400 dengan GNP per kapita Meksiko sebesar $4.400 pada tahun yang sama? Apakah setiap satu dolar pendapatan pada setiap negara memiliki harga yang sama? Apakah jumlah barang yang dihasilkan dari 1 $ ekuivalen di setiap negara, sehingga dapat dikatakan bahwa pendapatan sebesar $1.500 akan menghasilkan standar hidup yang sama di Jerman, Malaysia, Meksiko, dan Kamboja?

Dapat dikatakan bahwa $1.500 akan menghasilkan barang dan jasa dengan kuantitas yang berbeda di setiap negara karena harga barang dan jasa tentu saja berbeda menurut tingkat pendapatan rata-rata dari suatu ekonomi negara.

Ukuran GNP dan GDP dan GNP per kapita pada dasarnya diukur dalam unit mata uang setiap negara (peso untuk Meksiko, rupe untuk India), menjadi ukuran dolar Amerika. Hal ini dilakukan dengan menggunakan nilai tukar setiap negara dengan dolar Amerika. Namun konversi nilai tukar hanya dapat membandingkan harga barang-barang yang diperdagangkan, yakni barang-barang yang diperdagangkan secara internasional seperti misalnya komputer, motor, mobil, sepatu, dan anggur. Asumsinya adalah bahwa harga barang dagang yang diubah menjadi dolar Amerika akan similar diantara negara-negara karena adanya kompetisi internasional.

Akan tetapi, untuk barang dan jasa yang tidak diperdagangkan, yang tidak masuk dalam perdagangan internasional diantara negara-negara, harga diantara setiap negara sangat berbeda secara substansial. Perbedaan ini akan tergantung pada kondisi internal setiap negara, khususnya rata-rata tingkat pendapatan, tetapi juga kearifan lokal, regulasi, derajat kompetisi, dan sebagainya. Untuk barang dan jasa yang tidak diperdagangkan seperti perumahan, transportasi, pelayanan personal, tidak ada kompetisi internasional atau peluang arbitrasi untuk membuat harga sama untuk setiap negara. Untuk membandingkan pendapatan diantara negara-negara dan mengatasi kelemahan nilai tukar tradisional maka dapat digunakan purchasing power parity, atau PPP.

Contoh Menghitung PPP:

Misalnya di tahun 2003, harga sebuah Big Mac di Brazil = Real 4.55 dan di Amerika = $2.71 yang berarti PPP untuk mata uang Real 1.68 = $1 (Real 4.55 = $2.75; $1= Real ???) dibandingkan dengan nilai tukar aktual Real 3.07 = $1, sehingga P adalah 55% dan nilai tukar Real undervalued hampir 45%, menunjukkan bahwa hamburger murah di Brazil. Sama halnya, misalnya, harga Big Mac di Korea Selatan = Wan 3537 menunjukkan PPP untuk Wan 1296 = $1 dibandingkan dengan nilai tukar aktual Wan 1258 = $1, dengan P 1.03%.

 


INDIKATOR-INDIKATOR PEMBANGUNAN:

KEMISKINAN (POVERTY)

 

 

  1. 1.      THE HEADCOUNT RATIO (H)

 

H = Jumlah Kaum Miskin

Total Populasi

Rasio ini merupakan ukuran yang sangat simpel. Kelemahannya adalah: tidak memperhitungkan kedalaman tingkat kemiskinan (sejauh mana orang hidup di bawah garis kemiskinan). Contoh:

Tabel

Contoh Seberapa Dalam Tingkat Kemiskinan diantara 2 Populasi

(N = 10; Z = $1/hari)

 

Populasi 1

 

Populasi 2

 

Person (i)

yi ($)

Person (i)

yi ($)

1

2.0

1

4.0

2

1.9

2

3.8

3

1.9

3

2.5

4

1.8

4

2.5

5

1.2

5

1.5

6

0.8

6

0.9

7

0.6

7

0.9

8

0.5

8

0.8

9

0.5

9

0.7

10

0.4

10

0.7

H

5/10 = 0.5

 

5/10 = 0.5

Meskipun nilai the Headcount Ratio kedua populasi adalah 0.5 (setengah dari populasi hidup di bawah garis kemiskinan $1/hari), namun kedalaman kemiskinan pada populasi 1 lebih besar daripada populasi 2. Untuk populasi 2, tingkat kedalaman maksimum hanya $0.30 ($1 - $0.7) yakni pada individu ke-9 & 10. Sedangkan pada populasi 1, ada 4 individu (individu 7 – 10) dengan tingkat kedalaman kemiskinan lebih besar dari 0.30.

 

Cara lain: Cari rerata penyimpangan (deviasi) dari garis kemiskinan.

Untuk populasi 1, rerata penyimpangannya dari garis kemiskinan adalah:

(0.2 + 0.4 + 0.5 + 0.5 + 0.6) = $0.44

                   5

Untuk populasi 2, rerata penyimpangannya dari garis kemiskinan adalah:

(0.1 + 0.1 + 0.2 + 0.3 + 0.3) = $0.2

                    5

Dengan demikian, walaupun nilai the Headcount Ratio sama untuk kedua populasi namun derajat kemiskinan yang ada di populasi 1 lebih buruk daripada populasi 2.


  1. 2.     INCOME GAP RATIO (I)

 

Digunakan untuk mencari kedalaman tingkat kemiskinan di bawah garis kemiskinan. Karenanya perhitungan ini tidak berlaku bagi individu dengan tingkat pendapatan di atas garis kemiskinan.

Cara menghitung:

  1. Tentukan deviasi pendapatan dari garis kemiskinan untuk setiap person. Rumusnya:

Deviasi pendapatan = (Z-yi)

                                                Z

  1. Jumlahkan total deviasi pendapatan dari garis kemiskinan untuk semua person.
  2. Tentukan Income Gap Ratio (I) dengan rumus:

      I = Total Deviasi Dari Garis Kemiskinan

            Jumlah Individu di Bawah Garis Kemiskinan

Contoh:

Diketahui:

 

Populasi 1

Populasi 2

Person (i)

yi ($)

Person (i)

yi ($)

1

2.0

1

4.0

2

1.9

2

3.8

3

1.9

3

2.5

4

1.8

4

2.5

5

1.2

5

1.5

6

0.8

6

0.9

7

0.6

7

0.9

8

0.5

8

0.8

9

0.5

9

0.7

10

0.4

10

0.7

Soal: Cari nilai Income Gap Ratio-nya.


Jawab:

 

Populasi 1

Populasi 2

Person (i)

yi ($)

(Z-yi)

Z

Person (i)

yi ($)

(Z-yi)

Z

1

2.0

 

1

4.0

 

2

1.9

 

2

3.8

 

3

1.9

 

3

2.5

 

4

1.8

 

4

2.5

 

5

1.2

 

5

1.5

 

6

0.8

0.2

6

0.9

0.1

7

0.6

0.4

7

0.9

0.1

8

0.5

0.5

8

0.8

0.2

9

0.5

0.5

9

0.7

0.3

10

0.4

0.6

10

0.7

0.3

H

0.5

 

 

0.5

 

Total Deviasi

 

2.2

 

 

1.0

Jumlah n di bawah gr. Kemiskinan

 

5

 

 

5

Maka I =

2.2/5

0.44

 

1.0/5

0.2

 

Analisa Tabel:

  • Semakin tinggi nilai I, semakin besar rerata deviasi kemiskinan.
  • Jika garis kemiskinan yang dipakai adalah $1/hari dan 2 individu punya pendapatan sebesar $0.8/hari maka rerata kedalaman kemiskinan adalah $0.20/hari. Kalau garis kemiskinan yang dipakai adalah $2/hari dan pendapatan pada $1.80/hari maka rerata kedalaman kemiskinan sama dengan sebelumnya ($0.20/hari).
  • Meski demikian, situasi yang dialami bisa berbeda. Dengan patokan garis kemiskinan $1/hari, dua individu tadi punya rerata kedalaman tingkat kemiskinan sebesar 20% (0.2/$1). Sedangkan pada patokan $2/hari, rerata kedalaman tingkat kemiskinan hanya 10% (o.2/$2).

 

Problema:

Nilai the Income Gap Ratio kadang-kadang “menyembunyikan” variasi kesenjangan yang ada antar individu. Contoh:


 

Populasi 3

Populasi 4

Person (i)

yi ($)

(Z-yi)

Z

Person (i)

yi ($)

(Z-yi)

Z

1

2.0

 

1

4.0

 

2

1.9

 

2

3.8

 

3

1.9

 

3

2.5

 

4

1.8

 

4

2.5

 

5

1.2

 

5

1.5

 

6

0.8

0.2

6

0.9

0.1

7

0.7

0.3

7

0.9

0.1

8

0.7

0.3

8

0.8

0.2

9

0.6

0.4

9

0.4

0.6

10

0.5

0.5

10

0.3

0.7

H

0.5

 

 

0.5

 

Total Deviasi

 

1.7

 

 

1.7

Jumlah n di bawah gr. Kemiskinan

 

5

 

 

5

Maka I =

1.7/5

0.34

 

1.7/5

0.34

 

Meskipun nilai I sama untuk kedua populasi, namun pada populasi 4 terlihat lebih besar kesenjangan kedalaman kemiskinan jika dibanding dengan populasi 3. Terlihat bahwa rentang kedalaman pada populasi 3 adalah 20-50% dari garis kemiskinan, sedangkan rentang kedalaman untuk populasi 4 adalah 10-70%.

 

Karena nilai I adalah suatu rerata, maka hal ini bisa menjadi suatu ukuran yang menyesatkan bagi keberhasilan suatu program penanggulangan kemiskinan. Contoh:


 

Sebelum Proyek

Sesudah Proyek

Person (i)

yi ($)

(Z-yi)

Z

Person (i)

yi ($)

(Z-yi)

Z

1

2.0

 

1

4.0

 

2

1.9

 

2

3.8

 

3

1.9

 

3

2.5

 

4

1.8

 

4

2.5

 

5

1.2

 

5

1.5

 

6

0.8

0.2

6

1.1

 

7

0.7

0.3

7

0.7

0.3

8

0.7

0.3

8

0.7

0.3

9

0.6

0.4

9

0.6

0.4

10

0.5

0.5

10

0.5

0.5

H

0.5

 

 

0.4

 

Total Deviasi

 

1.7

 

 

1.5

Jumlah n di bawah gr. Kemiskinan

 

5

 

 

4

Maka I =

1.7/5

0.34

 

1.5/4

0.38

 

Setelah adanya proyek, individu ke-6 mengalami pergeseran posisi menjadi “di atas” garis kemiskinan. Meski demikian, nilai Income Gap Ratio (I) bergerak dari 0.34 ke 0.38. Melemahnya nilai I ini menunjukkan bahwa justru proyek penanggulangan kemiskinan telah memperparah tingkat kedalaman kemiskinan.

 

 


  1. 3.           POVERTY GAP INDEX (P1)

 

Untuk menutupi kelemahan dari the Income Gap Ratio (I) diatas maka muncul varian berikutnya yakni Poverty Gap Index. Rumusnya adalah:

P1 = proporsi individu di bawah garis kemiskinan x Rerata Deviasi di bawah garis kemiskinan

P1 = Headcount Ratio x Income Gap Ratio

 

Sebelum Proyek

Sesudah Proyek

Person (i)

yi ($)

(Z-yi)

Z

Person (i)

yi ($)

(Z-yi)

Z

1

2.0

 

1

4.0

 

2

1.9

 

2

3.8

 

3

1.9

 

3

2.5

 

4

1.8

 

4

2.5

 

5

1.2

 

5

1.5

 

6

0.8

0.2

6

1.1

 

7

0.7

0.3

7

0.7

0.3

8

0.7

0.3

8

0.7

0.3

9

0.6

0.4

9

0.6

0.4

10

0.5

0.5

10

0.5

0.5

H

0.5

 

 

0.4

 

Total Deviasi

 

1.7

 

 

1.5

Jumlah n di bawah gr. Kemiskinan

 

5

 

 

4

I =

1.7/5

0.34

 

1.5/4

0.38

P1 =

0.5 x 0.34

0.17

 

0.4 x 0.38

0.15

 

Semakin rendah P1 maka semakin baik; nilai P1 = 0 menunjukkan tidak ada individu yang tergolong miskin. Perubahan nilai P1 dari 0,17 ke 0.15 menunjukkan ada perbaikan kondisi setelah diimplementasikannya program penanggulangan kemiskinan. Meskipun nilai P1 mengalami perbaikan, nilai H mengalami penurunan.

 

Meski Poverty Gap Index bisa dipandang sebagai jawaban final bagi para pembuat keputusan namun ukuran ini memiliki kelemahan. Yakni ia tidak menggambarkan distribusi pendapatan para kaum miskin (yakni mereka yang berada di bawah garis kemiskinan). Apakah mereka sama miskinnya atau ada yang lebih miskin dari yang lain? The Income Gap Ratio hanya menunjukkan rerata kedalaman kemiskinan, sedangkan the Headcount Ratio hanya menginformasikan proporsi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan.

Hal ini diterangkan lebih lanjut pada tabel berikut:

 

 

 

Kategori

Populasi 5

Populasi 6

 

Individu (i)

Income yi ($)

Individu (i)

Income yi ($)

Paling rendah

1

0.90

1

0.49

 

2

0.80

2

0.48

 

3

0.70

3

0.46

 

4

0.50

4

0.44

 

5

0.40

5

0.43

 

6

0.30

6

0.42

 

7

0.25

7

0.41

 

8

0.20

8

0.40

 

9

0.15

9

0.39

Tertinggi

10

0.10

10

0.38

Total Pendap..

 

4.30

 

4.30

Rerata Income

 

0.43

 

0.43

Range

 

0.1 s.d. 0.9

 

0.38 s.d. 0.49

Headcount Ratio (H)

 

0.50

 

0.50

Income Gap Ratio (I)

 

0.57

 

0.57

Poverty Gap Index (P1)

 

0.285

 

0.285

 

Meski rerata pendapatan kedua populasi identik ($0.43), distribusi pendapatan sangat berbeda. Populasi 6 memiliki distribusi pendapatan yang hampir seragam, berbeda dengan populasi 5. Tiga indikator di dua populasi tersebut juga memiliki nilai yang sama.

Dari perspektif kebijakan, keputusan apa yang harus diambil jika ada dua populasi sama-sama miskin namun distribusi pendapatannya berbeda?


KETIMPANGAN PENDAPATAN (INCOME INEQUALITY)

 

Ketimpangan (inequality) merupakan pertimbangan penting dalam pembangunan. Menurut Kao & Liu (1984):

To many social scientist, the ultimate goal of development is an improvement of the social welfare for all people, rather than merely raising the “standard of living” for any particular group or groups.

Karenanya, ada dimensi moral sekaligus material concern seperti ketegangan sosial (social tension) (Quadrado dkk., 2001). Meskipun yang dibahas ini berkaitan dengan ekonomi, namun ketimpangan dapat dipahami juga dalam konteks lain seperti pendidikan, pemeliharaan kesehatan, dsb. (Sen, 1985).

Cara yang paling sederhana untuk mengukur pemerataan distribusi pendapatan diantara setiap orang dalam suatu populasi adalah:

Lakukan perangkingan berdasarkan kategori pendapatan penduduk kemudian hitung proporsi total pendapatan berdasarkan kategori tersebut.

 

a)    THE INDEX OF DISSIMILARITY (ID)

 

Rumus:

ID = 0.5 ∑ Xi – Yi. Xi adalah cakupan kategori pendapatan dan Yi adalah proporsi pendapatan berdasarkan kategori tersebut. Contoh:

 

Kategori Income

Keluasan Kategori Xi

Proporsi Total Pendapatan Yi

Absolut Xi-Yi

20% termiskin pertama

0.2

0.001

0.199

20% termiskin kedua

0.2

0.001

0.199

20% termiskin ketiga

0.2

0.001

0.199

20% termiskin keempat

0.2

0.001

0.199

20% paling kaya

0.2

0.996

0.796

Total

1

1

Total: 1.592

 

 

 

ID = 0.796

 

b)    THE GINI COEFFICIENT

 

Koefisien Gini adalah ukuran yang paling populer untuk mengukur derajat ketimpangan. Seperti the Index of Dissimilarity, the Gini Coefficient bukanlah suatu ukuran kemiskinan. Meski demikian, ia seringkali ada perhitungan indikator pembangunan.

Koefisien Gini didasarkan pada Kurva Lorenz dan besarnya koefisien mulai dari 0 s.d. 1. 0 = pendapatan, pengeluaran, dsb. terdistribusi secara merata. 1 = ada ketimpangan yang ekstrem.

Formula untuk Koefisien Gini:

Koefisien Gini = 1 - ∑(σXi – σXi-1) (σYi-1 + σYi)

 

 

Kritik:

  1. Koefisien Gini tidak menginformasikan kepada kita tentang standar kehidupan.
  2. Walaupun relatif mudah menghitung Koefisien Gini, namun kalkulasinya memerlukan jaminan akan kualitas data.
  3. Koefisien Gini hanya menghitung ketimpangan dalam konteks pendapatan. Perlu ada sisi multi-dimensional dalam perspektif ketimpangan yang mencakup pula variabel-variabel non-ekonomi.

 

 

 

Contoh: Diketahui:

 

Kategori

Proporsi Total Income

Terendah pertama 20%

0.036

Terendah kedua 20%

0.089

Terendah ketiga 20%

0.149

Terendah keempat 20%

0.232

Terendah kelima 20%

0.494

Total

1.000

 

Soal: Cari Koefisien Gini dari tabel di atas.

Jawab:

 

Kategori

Label (i)

Category Width (Xi)

Proportion of Total Income (Yi)

Cumulative Categories (σXi)

Cumulative Income (σYi)

σXi-σXi-1

σYi-1+σYi

(σXi-σXi-1) (σYi-1 + σYi)

Terendah I 20%

1

0.2

0.036

0.2

0.036

0.2

0.036

0.007

Terendah II 20%

2

0.2

0.089

0.4

0.125

0.2

0.161

0.032

Terendah III 20%

3

0.2

0.149

0.6

0.274

0.2

0.399

0.080

Terendah IV 20%

4

0.2

0.232

0.8

0.506

0.2

0.780

0.156

Terendah V 20%

5

0.2

0.494

1.0

1.000

0.2

1.560

0.301

Total

 

1.0

1.000

 

Total

0.576

 

Gini

0.424

 

 

 

Amartya Sen’s Index of Poverty

Amartya Sen menyoroti problem dalam Poverty Gap Index diatas. Pendekatan dikenal luas sebagai Amartya Sen’s Index of Poverty. Indeks ini memadukan the Headcount Ratio, the Income Gap Ratio dan the Gini Coefficient untuk penduduk yang dikategorikan miskin (di bawah garis kemiskinan).

 

Formula Sen’s Poverty Index (P) adalah:

Poverty Index (P) = H (I + (1-I) Gp); atau

P = HI + H (1-I) Gp

H = Headcount Ratio; I = Income Gap Ratio; dan Gp = Gini Coefficient.

 

Kategori

Individual (i)

Income ($)

(Z-Xi/Z)

($)

Categoy Width (Xi)

Proportion of Total Income (σYi)

Cumulative Categories

(σXi)

Cumulative Income (σYi)

σXi-σXi-1

σYi-1+σYi

(σXi-σXi-1) (σYi-1 + σYi)

Terendah

1

0.10

0.90

0.1

0.023

0.1

0.023

0.1

0.023

0.002

 

2

0.15

0.85

0.1

0.035

0.2

0.058

0.1

0.081

0.008

 

3

0.20

0.80

0.1

0.047

0.3

0.105

0.1

0.163

0.016

 

4

0.25

0.75

0.1

0.058

0.4

0.163

0.1

0.268

0.027

 

5

0.30

0.70

0.1

0.070

0.5

0.233

0.1

0.396

0.040

 

6

0.40

0.60

0.1

0.093

0.6

0.326

0.1

0.559

0.056

 

7

0.50

0.50

0.1

0.116

0.7

0.442

0.1

0.768

0.077

 

8

0.70

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :